Photobucket

Kamis, 22 Desember 2011

Demi Sepotong Nyawa


(Mohammad Fauzil Adhim)

Tsumamah bin Utsal al-Hanafi masuk Islam dan menunaikan ibadah umrah. Ketika ia memasuki Mekah, orang-orang musyrik bertanya, “Apakah engkau menjadi Shabi’i, wahai Tsumamah?”
Ia menjawab, “Tidak, tetapi aku mengikuti agama terbaik, agama Muhammad. Demi Allah, tidak akan sampai kepada kalian satu biji pun dari Yamamah sampai Rasulullah mengizinkannya.”
Orang-orang musyrik pun pergi ke Yamamah, sementara kaum Muslimin melarang mereka membawa sesuatu pun ke Makah. Maka, orang-orang musyrik mengirim surat kepada Rasulullah Saw, “Sesungguhnya engkau memerintahkan pengikutmu untuk memutus tali silaturahmi dan engkau pun telah memutuskan tali silaturahmi kita. Engkau juga telah membunuh leluhur kami dengan pedang dan engkau membunuh anak-anak kami dengan rasa lapar.”
Setelah menerima surat dari kaum musyrikin, Rasulullah Saw berkirim surat kepada kaum Muslimin untuk membiarkan orang-orang musyrik membawa barang ke Mekah. Ketika itu para shahabat memang melakukan boikot sebagai bentuk perlawanan terhadap orang-orang musyrik Madinah.
Peristiwa ini dituturkan oleh Ibnu Katsir dalam Sirah Nabawiyyah. Ada pelajaran yang bisa kita ambil dalam peristiwa ini. Kita bisa melakukan boikot terhadap mereka yang nyata-nyata menunjukkan permusuhan kepada kita. Kadang, tak ada pilihan yang lebih baik kecuali memboikot produk-produk musuh, atau produk dari mereka yang jelas-jelas membantu musuh dengan dana atau pun kekuatan. Sebab, sesungguhnya musuh yang harus kita lawan tidak hanya mereka yang memerangi dan melakukan kekejaman kepada kita.
Ali bin Abi Thalib mengingatkan, “Tiga orang musuhmu adalah musuhmu sendiri, teman musuhmu dan musuh temanmu.”
Nabi Saw sendiri pernah mengalami penderitaan yang sangat panjang sehingga hampir-hampir tak dapat hidup akibat boikot, embargo sekaligus pengucilan. Bersama orang-orang yang setia dan memiliki keyakinan yang kokoh, Nabi Saw menjalani perlakuan kaum musyrikin ini dengan rasa lapar yang melilit. Ketika itu, para shahabat bahkan sampai harus makan dedaunan demi mempertahankan sepotong nyawa agar tak melayang sia-sia.
Sejarah ternyata harus berulang. Di depan mata kita sekarang, kita menyaksikan bagaimana kaum Muslimin harus mengalami penderitaan yang menyiksa akibat boikot dan pengucilan. Situasinya bahkan lebih sadis. Setelah diembargo dalam waktu yang sangat lama dan dilucuti senjatanya, saudara-saudara kita di Gaza dihabisi dengan kekuatan yang tidak sebanding. Sementara kita hanya diam saja melihat penderitaan anak-anak Gaza yang kehilangan bapaknya. Kita bahkan sangat menikmati tayangan-tayangan itu; tanpa airmata, tanpa simpati, tanpa melakukan apa-apa….
Bahkan, sangat mungkin kita menjadi pendukung kebiadaban yang sangat kejam itu, sementara kita tidak menyadarinya. Kita membeli produk-produk yang menyisihkan keuntungannya untuk Israel dan Amerika, sedangkan kita tidak tahu. Padahal sangat banyak produk di sekeliling kita yang telah mencatat sejarah sebagai penyokong dana bagi berlangsungnya kejahatan kemanusiaan terhadap saudara-saudara kita di Gaza dan belahan bumi lain di Palestina. Maka, membeli produk mereka sama dengan menggadaikan sepotong nyawa saudara kita.

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes