Photobucket

Rabu, 05 September 2012

Arti Sekolah yang UNGGUL .......



Suatu ketika seorang guru bijak dari wilayah Ju, China ditanya oleh para muridnya. Seperti apakah sesungguhnya Perguruan yg benar2 unggul. Karena saat itu banyak perguruan yg mengklaim dirinya Unggulan, Favorit dsb....

Sang guru bijak, termenung sejenak mendengarkan pertanyaan para muridnya, lalu kemudian dengan lembut dan penuh kasih sang guru berkata;

"Sesungguhnya Perguruan yg Unggul adalah perguruan yg tidak pernah melakukan proses seleksi pada calon muridnya, melainkan proses seleksi pada orang tua yg akan mengirim anaknya untuk dididik disana, Apakah orang tuanya mau bekerjasama dengan baik dengan pihak perguruan dalam mendidik anaknya, atau hanya menyerahkan semua urusan pada pihak perguruan saja."

"Mengapa demikian guru....?" tanya para muridnya. Kembali gurunya termenung sejenak, dan kemudian menjawab

"Murid-muridku, Sesungguhnya Mesin yg benar2 hebat dan unggul adalah apa bila ia mampu mengubah sampah menjadi emas. Jadi Perguruan yg unggul itu adalah perguruan yg mampu mengubah siapapun anaknya berhasil menemukan dan memupuk potensi emasnya."

"Itulah sesungguhnya tujuan didirikannya sebuah perguruan, yakni untuk mencerdaskan orang-orang yg tidak cerdas bukan untuk memilih yg cerdas-cerdas untuk di cerdaskan"

Kini giliran para muridnya yg termenung, memikirkan jawaban dari gurunya. Karena di perguruan tempat mereka belajar tidak ada seleksi masuk bagi para muridnya, tapi mengapa justru menurut masyarakat setempat perguruan ini tidak termasuk yg Unggul dan Favorit.

Tiba-tiba seorang murid diantara mereka bertanya;
"Lalu bagaimana jika ada Perguruan yg terkenal yg katanya unggulan/favorit tapi melakukan seleksi pada para calon muridnya...?"

Sang guru bijak, menarik nafas dalam-dalam.... dan sambil menepuk2 bahu sang murid yg bertanya tadi, sang guru bijak berkata;

"Jadi jika memang kamu menemukan sebuah perguruan yg melakukan seleksi dan memilih-milih anak yg akan diterima menjadi muridnya dari kelompok yg menurutnya bibit unggul, jelas itu bukan sekolah unggulan namanya. Melainkan sekolah yg biasa-biasa saja tapi mengaku-ngaku unggul."

"Mengapa demikian guru...?" tanya si murid tadi.

Sambil tersenyum sang guru bijak berkata;

"Jika sebuah perguruan hanya memilih dari bahan baku emas untuk dicetak kembali menjadi emas.., itu tidak perlu mesin atau perguruan yg unggul, setiap tukang emas di pasar juga bisa melakukannya."

"Jadi camkan baik-baik, Perguruan yg hebat itu adalah perguruan yg mampu mengubah sampah menjadi emas."

"Tidakkah kamu semua akan takjub apa bila melihat ada alat yg mampu mengubah sampah menjadi emas...?"

Kini giliran Sang Guru Bijak yg bertanya pada para muridnya.


Apa kira-kira pesan yg kita bisa petik dari kisah tersebut...?

Minggu, 03 Juni 2012

Tak Ada Kedewasaan yang Instant

oleh Mohammad Fauzil Adhim pada 20 April 2012 pukul 6:01 ·
 
Makanan dan minuman boleh instant. Tanpa bersusah meracik, setiap orang bisa membuat mie dengan rasa yang sama. Tak ada bedanya kopi bikinan anak kecil dengan hasil seduhan orang dewasa. Sebabnya, mereka sama-sama pakai kopi instant. Tanpa perlu memahami karakter kopi, setiap orang bisa menghidangkan kopi dengan rasa yang cukup enak di lidah karena bahannya instant. Tetapi, samakah kopi instant dengan kopi yang diracik secara khusus oleh koki berpengalaman? Sangat berbeda. Sebagaimana berbeda sekali nilai dan harga sebuah jam tangan yang dibuat oleh tangan seorang ahli yang terampil dan berpengalaman dengan arloji pabrikan yang dalam waktu sehari bisa memproduksi ratusan dan bahkan ribuan keping.

Tak ada kecerdasan instant. Apalagi kedewasaan. Kita mungkin bisa menjadikan seorang anak tiba-tiba tampak hebat karena mampu menggambar, menulis atau membaca dengan mata tertutup. Tetapi sangat berbeda kemampuan menebak, menginderai dan mengenal dengan kemampuan mencerna, memahami, memikirkan dan mengembangkan sebuah konsep. Hari ini, banyak orangtua yang bersibuk-sibuk menjadikan anaknya tampak hebat, tetapi lupa membangun pilar kehebatan itu sendiri.

Sesungguhnya, taraf kemampuan kognitif anak bertingkat-tingkat secara hierarkis. Dan pendidikan berkewajiban mengantarkan setiap anak agar mampu mencapai taraf kognitif yang setinggi-tingginya. Taraf paling rendah adalah pengetahuan. Ini merupakan kemampaun untuk mengetahui, mengenal dan mengingat apa-apa yang sudah ia pelajari. Ia bisa mengulang kembali dan menyampaikan kepada orang lain. Di negeri ini, pelajaran di kelas dan ujian di sekolah kerapkali hanya menakar kemampuan kognitif terendah, yakni pengetahuan.

Berbagai teknik atau trik yang banyak diperkenalkan (lebih jelasnya: dijual) kepada masyarakat umumnya sebatas membantu anak mencapai kemampuan kognitif terendah. Bukan mengembangkan kemampuan berpikir. Lebih-lebih cara berpikir, umumnya hampir tak tersentuh. Tetapi inilah yang paling mudah kita lihat: atraksi kebolehan dan demonstrasi yang menunjukkan perubahan cepat luar biasa. Karena terpukau, kita kemudian kehilangan daya berpikir kritis tatkala para trainer itu mengatakan bahwa trik-trik tersebut membangun karakter anak! Padahal yang dimaksud bukan karakter. Yang dimaksud hanyalah sebatas kemampuan kognitif. Paling jauh keterampilan sosial yang bernama sopan santun.

Sungguh, sopan santun sangat berbeda dengan karakter. Sebagai keterampilan, sopan santun merupakan bagian dari kecakapan sosial. Sementara karakter lebih banyak berkait dengan kualitas personal pada diri seseorang. Karakter bermula dari kesadaran terhadap nilai-nilai (bukan sekedar tahu atau bahkan paham), partisipasi atau kesediaan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, penghayatan nilai, pengorganisasian nilai dan barulah kemudian sampai pada tingkat karakterisasi diri. Yang dimaksud dengan penghayatan nilai adalah kemampuan untuk menerima nilai dan terikat kepadanya. Sedangkan pengorganisasian nilai merupakan kemampuan untuk memiliki sistem nilai dalam dirinya. Sampai pada tingkat ini, karakter masih belum terbentuk. Karakterisasi baru terjadi apabila seseorang telah mampu memilih nilai sebagai gaya hidup (life style) dimana sistem nilai yang terbentuk mampu mengawasi tingkah lakunya.

Jadi, ada proses panjang sebelum terbentuk dalam diri seseorang. Ia bukan sekedar keterampilan. Ia merupakan perwujudan nilai-nilai yang mempengaruhi pikiran, cara pandang, penghayatan dan gaya hidup kita. Ia menjadi penakar dalam menentukan sebuah tindakan terkait dengan patut atau tidak, mulia atau hina. Ia berangkat dari kesadaran. Bukan pengetahuan. Kesadaran merupakan tingkat terendah dari kemampuan afektif. Sedangkan tingkat terendah kemampuan kognitif adalah pengetahuan (knowledge). Ini berarti, sekedar pintar tak berpengaruh pada karakter.

Setingkat di atas pengetahuan adalah pemahaman (understanding). Pada tingkat ini –tingkat terendah kedua dalam kemampuan kognitif—anak mengerti dengan baik apa yang dipelajari. Kemampuan ini bukan semata karena anak belajar, tetapi karena pendidik memang memahamkan. Bukan sekedar menyampaikan sejelas-jelasnya sehingga anak mengingat dengan baik dan mampu menyampaikan kembali secara gamblang. Pendidik perlu secara serius merangsang kemampuan berpikir anak sehingga mereka memahami dengan baik apa yang diterangkan.

Yang perlu kita catat, pemahaman tidak berpengaruh terhadap perilaku. Pemahaman baru akan bermanfaat menuntun dan mengarahkan perilaku anak-anak kita jika mereka telah menghayati nilai-nilai agama ini dengan baik. Sangat berbeda, menghayati dengan memahami.

Itu pula yang menerangkan mengapa anak yang telah memahami baik-buruknya sesuatu, tidak berubah perilakunya. Kecerdasan mempengaruhi kemampuan mengingat, mencerna dan memahami sesuatu. Sedangkan keyakinan mendorong orang untuk menggunakan seluruh kemampuannya agar bisa melakukan apa yang telah menjadi keyakinannya, meskipun bertentangan dengan pemahamannya.

Kembali pada jenjang-jenjang kemampuan kognitif. Setingkat di atas pemahaman adalah penerapan (aplikasi), yakni kemampuan menggunakan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi baru dan nyata. Ini bukan berurusan dengan keyakinan. Ini erat kaitannya dengan kecakapan untuk menerapkan apa yang telah ia ketahui. Shalat misalnya. Anak bisa melakukan shalat dengan sangat baik bukan karena yakin dan suka, tetapi karena ia memahami betul tata-cara shalat yang baik.

Jenjang kemampuan berikutnya adalah analisis. Berbekal pemahaman yang baik dan mendalam atas berbagai pengetahuan yang telah ia dapatkan sekaligus (pernah) ia praktikkan, seseorang bisa mencapai kemampuan analisis. Ia  mampu menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami. Jika kemampuan ini berkembang lebih lanjut, ia akan sampai pada taraf kognitif yang lebih tinggi, yakni sintesis. Ini merupakan kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi keseluruhan yang berarti. Ia mampu menemukan benang merah berbagai pengetahuan yang berserak menjadi satu kesatuan yang utuh dan bermakna.

Tingkat tertinggi kemampuan kognitif adalah penilaian. Bukan menilai orang dari apa yang tampak, melainkan kemampuan memberikan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan yang ditetapkan terlebih dahulu, baik bersifat internal maupun eksternal. Di tingkat inilah seseorang mencapai tingkat pemahaman yang mendalam. Kemampuan ini barangkali lebih dekat dengan makna faqih. Bukan sekedar faham. Dan amat sedikit orang yang mencapai kemampuan ini. Lebih-lebih sekolah –begitu pula orangtua—lebih banyak menyibukkan diri untuk memacu kemampuan kognitif terendah, yakni pengetahuan atau paling jauh pemahaman. Kita sudah cukup bangga jika anak mengingat dengan baik, mampu menirukan secara sempurna dan menerangkan secara gamblang pelajaran yang telah mereka terima. Kita telah menganggap jenius anak-anak yang hanya menggunakan kemampuan kognitif terendah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Kuncinya Pada Guru

oleh Mohammad Fauzil Adhim pada 21 Mei 2012 pukul 6:26 ·

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

(QS. At-Taubah, 9: 128).


Apakah yang dapat kita harapkan dari guru-guru yang datang ke kelas hanya untuk menerangkan mata pelajaran? Apakah yang dapat kita minta dari para guru yang datang ke kelas hanya berbekal pengetahuan sederhana? Apakah yang dapat kita jaminkan atas anak-anak kita jika guru hanya peduli jam mengajar? Sementara tentang murid-muridnya, ia nyaris mengenali kecuali sekedar nama, wajah dan suaranya saja.

Sungguh, kunci keberhasilan guru bukan terutama terletak pada kompetensi sebagai pengajar, baik kompetensi mengajar maupun kompetensi dalam bidang studi yang ia ajarkan. Sungguh, bukan itu yang paling pokok. Ada yang lebih mendasar lagi, yakni adakah kerisauan besar dalam dirinya yang ia hayati sepenuh hati dan ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Ia risau atas keadaan anak-anak di zaman ini. Ia menginginkan kebaikan yang besar pada diri muridnya. Dan ia menghabiskan waktunya dengan memberi perhatian, berjuang dengan sungguh-sungguh dan belajar secara gigih agar dapat mengantarkan anak didiknya menjadi manusia-manusia terbaik sesuai apa yang ia yakini sebagai kualitas ideal manusia.

Tanpa obsesi yang sangat tinggi untuk mendidik para siswa menjadi manusia ideal, maka kegiatan mengajar hanya sekedar rutinitas saja. Begitu pula sekedar mampu merumuskan cita-cita secara tertulis, tapi tidak memiliki ikatan emosi dengan cita-cita tersebut, sulit baginya untuk meluangkan waktu bagi murid-muridnya sekaligus melapangkan telinga untuk mendengarkan penuturan murid dengan sepenuh jiwa. Mengajar hanya sekedar kegiatan fisik saja. Ia tidak membekas pada diri guru, tidak pula pada diri murid.

Jika materi yang mudah diingat saja tak membekas, apatah lagi dengan adab yang memerlukan kesabaran, dorongan, dukungan dan pendampingan dalam membentuknya. Maka, kunci sangat penting memulai ta’dib (proses pendidikan adab) adalah guru. Adakah para guru yang melakukan ta’dib memiliki kecintaan terhadap murid-muridnya? Adakah para guru amat mengingini bagusnya akhlak anak didik? Bukan agar mudah menangani mereka, tetapi karena mengingini keselamatan anak didik di Yaumil-Qiyamah. Tampaknya tipis perbedaannya, tetapi jauh sekali akibatnya. Merisaukan akhlak anak didik karena mengingini keselamatan mereka di akhirat mendorong kita lebih sabar menghadapi kesulitan. Sementara merisaukan akhlak hanya karena mengingini penanganan anak jadi lebih mudah, membuat kita mudah berpuas diri. Mencukupkan diri dengan yang tampak dan mudah abai terhadap apa yang kurang.

Berkenaan dengan keprihatinan yang amat dalam ini, teringatlah saya dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah, 9: 128).

Sangat mengingini keimanan dan keselamatan. Inilah perkara penting yang harus dimiliki oleh seorang guru yang benar-benar berkeinginan membangun adab pada diri murid-muridnya. Ia bersungguh-sungguh mendidik, memiliki belas-kasih lagi penyayang. Kecintaan itu memang ada di dalam hati. Begitu pula besarnya keinginan untuk membaguskan murid-murid. Tapi ia amat berpengaruh pada kata yang kita ucapkan, adakah ia menjadi perkataan yang membekas ataukah sekedar lewat saja.

Selebihnya, seorang guru perlu memperhatikan adab-adab mengajar. Semoga Allah Ta’ala mudahkan upaya membangun adab pada diri murid.

Lalu, apa saja yang penting untuk diperhatikan:


Tulus Mengajar

Bekal penting yang harus dimiliki oleh setiap guru adalah ketulusan mengajar. Tidak berharga suatu amal tanpa keikhlasan. Boleh jadi seorang guru memang bekerja pada sebuah lembaga pendidikan. Tetapi di atas itu semua, ia adalah orang yang sangat berpengaruh dalam menempa jiwa anak didik. Maka lebih dari sekedar tugas mengajar, ia harus memiliki ketulusan yang amat dalam sehingga ringan hatinya menyambut kehadiran dan keingintahuan anak didiknya.

Sama pentingnya dengan ketulusan adalah bagusnya penyambutan terhadap anak didik sehingga mereka merasa dicintai oleh gurunya atau pengasuhnya di asrama. Inilah yang akan melahirkan rasa hormat pada diri anak didik terhadap guru. Ini pula yang menjadikan anak didik lebih mudah menerima nasehat dan ilmu dari guru.

Tentang menyambut penuntut ilmu, teringatlah saya pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani dari Shafwan bin ‘Asal Al-Muradi. Ia berkata: Saya mendatangi Rasulullah saw. dan beliau di masjid bersandar dengan memakai burdah merah. Saya berkata kepada beliau, “Ya Rasul Allah, saya datang untuk menuntut ilmu.”

Beliau bersabda, “Selamat datang penuntut ilmu! Sesungguhnya penuntut ilmu dinaungi oleh para malaikat dengan sayapnya, kemudian mereka saling menumpuk hingga langit dunia, karena kecintaan mereka terhadap apa yang dia pelajari.” (HR. Ath-Thabrani).

Terdapat sejumlah hadis lain yang menunjukkan penyambutan Rasulullah saw. yang sangat hangat kepada para penuntut ilmu, terkecuali terhadap wanita. Ini tampak dalam hadis lain tentang kedatangan Ummu Hani untuk belajar.

Ketulusan mengajar itu juga ditampakkan dengan sikap saat bicara, ditampakkan juga saat mendengar murid berbicara. Bukankah kita ingat bagaimana Rasulullah saw. mencondongkan badan ketika mendengarkan lawan bicara?

Banyak hal yang masih perlu kita diskusikan tentang ketulusan mengajar dan bentuk-bentuk perilakunya. Tapi amat sempit ruang yang tersedia saat ini. Semoga kita dapat membahasnya secara lebih tuntas pada kesempatan lain.


Tawadhu’

Salah satu kunci sukses seorang murid adalah hormat kepada guru. Dan rasa hormat kepada guru ini akan tertancam lebih kuat dalam diri murid jika ia memiliki seorang guru yang tawadhu’, guru yang rendah hati. Bukan rendah diri. Bukan pula yang gila hormat dan selalu ingin didengar. Faktor yang sangat menentukan keberhasilan murid memang kesediaan dan kesungguhan mendengarkan ucapan gurunya. Tetapi pada saat yang sama, guru juga perlu menjadikan dirinya sebagai sosok yang pantas untuk senantiasa didengar dan dipatuhi oleh muridnya.

Mari kita ingat sejenak perkataan Anas bin Malik tentang pribadi Rasulullah saw. Ia berkata, “Tidak ada orang yang paling dicintai oleh para sahabat melebihi Rasulullah saw.. Walau begitu, ketika melihat Rasulullah saw. mereka tidak berdiri karena mengetahui bahwa Rasulullah saw. tidak menyukai hal itu.” (HR. Bukhari, Ahmad, At-Tirmidzi & Adh-Dhiya’ Al-Maqdisi).

Hadis ini memberi pelajaran kepada kita tentang sosok guru paling sempurna, Rasulullah saw.. Kecintaan para muridnya –para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in– tak diragukan lagi. Tetapi kecintaan yang besar itu tidak menyebabkan mereka berdiri menghormat. Ini merupakan salah satu saja dari sekian banyak pertanda tentang kerendah-hatian beliau saw. sehingga justru menjadikan beliau saw. makin dicintai.

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang suka untuk disambut dengan cara berdiri, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di api neraka.” (HR. Abu Dawud).

Sikap rendah hati justru menjadikan guru memiliki kedudukan yang tinggi di hati murid-muridnya.


Mengenali Murid

Hal lain yang perlu dimiliki guru adalah kesediaan dan keinginan untuk mengenali pribadi muridnya dengan baik. Bukan hanya tahu nama dan wajah. Jangankan berbicara dalam konteks pendidikan adab, lebih khusus lagi pendidikan Islam, bicara pendidikan secara umum pun pengenalan yang baik terhadap murid memegang peranan penting. Banyak masalah yang berkembang di kelas maupun asrama karena guru tidak memiliki pengenalan yang baik terhadap murid, sehingga tidak mampu membaca apa yang sedang menjadi keresahan muridnya. Kadang guru bahkan seperti tak peduli dengan keadaan murid.

Pengenalan yang baik terhadap murid memudahkan guru bertindak secara lebih tepat. Selain itu, juga meringankan hati mereka untuk lebih toleran terhadap murid.

Banyak hal yang masih perlu kita perbincangkan. Tapi agaknya kita masih harus bersabar. Do’akan saya dan nasehati, semoga mampu menulis secara lebih matang sekaligus lebih utuh tentang masalah ini pada waktu yang akan datang.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes