Photobucket

Kamis, 22 Desember 2011

Airmata yang Menetes

(Mohammad Fauzil Adhim)

Tengah hari di Madinah, semua makhluk mencari perlindungan di tempat-tempat yang teduh karena terik yang teramat panas. Penduduk umumnya lebih memilih untuk tidur siang daripada melakukan kegiatan. Jalan-jalan lengang. Nyaris tak ada yang bergerak kecuali debu-debu yang beterbangan dan daun-daun yang berserakan disapu angin. Ketika itu, seorang laki-laki berjalan dengan terhuyung-huyung menuju masjid. Kemudian datang lagi laki-laki lain.
“Apa yang menyebabkanmu keluar pada waktu seperti ini, hai Abu Bakar?” tanya Umar bin Khaththab, lelaki yang baru datang itu.
“Aku datang karena desakan rasa lapar,” kata Abu Bakar.
Umar kemudian berkata, “Demi Allah yang diriku berada di Tangan-Nya, aku pun terpaksa keluar karena rasa lapar.”
Ketika keduanya duduk di masjid, Rasulullah Saw datang, lalu berkata, “Mengapa kalian keluar pada waktu seperti ini?”
“Rasa lapar yang memilin perut kami, ya Rasulallah,” keduanya menjawab.
“Demi yang mengutusku dengan kebenaran,” kata Rasulullah Saw, “Aku pun keluar karena sebab yang sama. Bangunlah, marilah kita pergi ke rumah Abu Ayyub al-Anshari.”
Ketiganya pergi ke rumah Abu Ayyub. Istrinya menyambut kedatangan Rasulullah Saw bersama dua sahabatnya, “Selamat datang, Nabi Allah. Selamat datang juga orang-orang yang besertanya.”
“Ke mana Abu Ayyub?” tanya Nabi.
“Ia sedang keluar, tetapi sebentar lagi datang, ya Nabi Allah,” jawab istri Abu Ayyub.
Tak lama kemudian, Abu Ayyub memang datang. Ia sangat senang karena kedatangan tamu-tamu yang penuh kemuliaan. Ia segera memotong satu tangkai kurma. Nabi Saw menegurnya, “Mengapa engkau memotong satu tangkai, padahal yang mau diambil hanya buahnya?”
Abu Ayyub berkata, “Saya ingin sekali engkau makan kurma, baik yang masih muda maupun yang sudah matang.”
Untuk menjamu Rasulullah dan kedua sahabatnya, Abu Ayyub menyembelih kambing yang masih muda. Setengahnya dimasak dan setengahnya lagi dipanggang. Ketika hidangan disajikan di hadapan Rasulullah Saw, beliau berkata, “Wahai Abu Ayyub, berikan ini kepada Fathimah. Sudah beberapa hari ia tidak memperoleh makanan seperti ini.” Abu Ayyub segera mengantarkan makanan itu ke rumah Fathimah.
Nabi dan kedua sahabatnya makan sampai kenyang. Nabi bersabda, “Roti, daging, kurma matang, kurma segar, kurma muda.” Nabi menyebut makanan yang terhidang, sedangkan airmatanya tergenang di pelupuk matanya. Beliau berkata lagi, “Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, inilah nikmat yang akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah nanti pada Hari Kiamat. Lalu beliau membaca ayat terakhir surat at-Takatsur, “Kemudian, sungguh, kamu akan ditanya pada hari itu dari nikmat (yang kamu peroleh hari ini).”
Atas setiap tetes nikmat yang kita rasakan hari ini, Allah akan bertanya kepada kita. Lalu apakah yang telah kita lakukan agar Allah tidak murka kepada kita, sementara untuk menegakkan shalat malam rasanya teramat berat kita lakukan?
Dulu Abu Ayyub mengeluarkan hartanya untuk menjamu Nabi yang gemetar karena menahan lapar bersama dua sahabatnya, Umar bin Khathab dan Abu Bakar ash-Shiddiq. Hari ini kita tak dapat menyuguhkannya ke hadapan Nabi yang tercinta. Akan tetapi, ada orang-orang yang dicintai Nabi. Ada orang-orang yang Nabi berpesan kepada kita untuk menyisihkan sedikit dari harta kita; tetangga-tetangga yang semakin tak mampu membeli makanan; janda-janda yang menggigil karena tak sanggup mengisi perutnya atau orang-orang yang hancur hatinya.
Di sekeliling kita, ada anak-anak yang butuh sentuhan. Mereka menyaksikan kita setiap hari menikmati hidangan yang menggugah selera, sementara mereka hanya menelan air liur yang muncul karena mencium aroma masakan kita. Mereka memiliki semangat dan kecerdasan yang cukup menjanjikan untuk sekolah, tapi tak pernah memiliki kesanggupan untuk melangkahkan kaki ke sekolah yang paling buruk sekalipun karena tak kuat membayar SPP yang besarnya tak seberapa atau karena tak berdaya, meski sekadar untuk beli kaos kaki dan sepatu plastik.
Di sekeliling kita, ada orang-orang yang harus terjatuh sakit karena tak sanggup mempertahankan haknya atau harus tercekik lehernya karena tak kuat memenuhi kebutuhan yang harganya semakin tak terjangkau. Mereka mungkin sedang menanti saat-saat untuk jatuh sakit, sementara mereka tak mempunyai jaminan apa pun untuk mengobati sakitnya.
Hari ini, ketika kesedihan telah merata dan keputusasaan dirasakan hampir semua orang miskin, kita perlu bertanya sekali lagi pada diri kita, “Apa yang sudah kita lakukan?”
Mengatasi semua persoalan, kita tak akan sanggup melakukannya sendirian. Tetapi ada orang-orang yang bisa bergerak menolong mereka jika ada tetesan harta dari kita. Sedikit harta yang kita sisihkan, bisa berarti banyak bagi orang yang semakin hari semakin dicekam ketidakberdayaan. Sedikit peran kita mungkin tak terlalu terasa, tetapi bisa benar-benar bermakna ketika dikelola orang mereka yang mengerti betul bagaimana menjalankannya.
Sungguh, hari itu engkau akan ditanya tentang nikmat yang diperoleh hari ini! Lalu apakah yang sudah engkau lakukan? Apakah yang sudah engkau perbuat atas anak-anak cerdas penuh semangat tetapi kehidupan mereka sangat melarat? Apa yang sudah engkau lakukan atas anak-anak yang potensinya mengagumkan tetapi kehidupan orangtua mereka terpinggirkan?
Sungguh, hari itu kamu akan ditanya!

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes